SORTAMAN SARAGIH MENUJU SENAYAN 2014

SORTAMAN SARAGIH MENUJU SENAYAN 2014
Tokoh Muda Simalungun Pantas dan Layak Duduk di DPR RI

Kamis, 16 Oktober 2008

Suaranya Merdunya Sumbangsih untuk Gereja

Sosok
Willy Silalahi

Suara emas Willy Silalahi (mantan personil Trio Lasidos Plus, Axido Trio) kini tidak lagi sekedar cari materi. Hadir di acara gereja dan menyumbangkan beberapa lagu untuk dilelang, merupakan keterpanggilan Willy Silalahi sebagai sumbangsihnya untuk rumah Tuhan.

Dalam rangka Pesta Jubileum 105 Tahun Injil di Simalungun tingkat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Resort Jambi, baru-baru ini di GKPS Jambi, Willy Silalahi mampu menggugah jemaat GKPS se Resort Jambi dan undangan untuk menyumbang dalam lelang lagu Batak Simalungun dan Tapanuli yang dilantunkannya.

Kepiawaian pria batak kelahiran Tebing Tinggi, Sumatera Utara 05 Agustus 1953 ini menggugah simpati jemaat untuk menyumbang melalui lelang lagu dan barang, sudah terbukti di Jambi. Sumbangsih terhadap Gereja dilakukannya dengan talenta yang dimilikinya.
“Saya ingin berbuat untuk gereja, tidak terkecuali untuk GKPS. Istri saya boru Simarmata asal Simalungun. Kehadiran saya bersama istri di GKPS Jambi dalam pesta Olob-olob GKPS Resort Jambi, merupakan sumbangsih saya terhadap gereja. Saya tidak mematok harga, hanya sekedar biaya transport. Sudah saatnya saya berbuat banyak untuk Gereja melalui talenta yang diberikan Tuhan,”kata suami Yuliati br Simarmata ini kepada Batak Pos di Jambi baru-baru ini.

Willy Silalahi yang kini gabung di Axi Trio (Willy Silalahi, Royal Sitorus dan John A Silitonga) dalam waktu dekat akan mengeluarkan album baru yang berjudul “Ilu di Langgatan”.

Karier Pop Batak

Karier Willy Silalahi di dunia tarik suara sudah dimulai sejak tahun 70an. Awal pertamanya menyanyi bersama Trio Friendship, Trio Lasidos Plus, Trio Axido dan kini bersama Axi Trio.

Eksistensi Willy Silalahi di dunia tarik suara Pop Batak Tapanuli terus mengalir hingga era sekarang. Dirinya tidak meresa tersingkirkan dengan hadirnya penyanyi-penyanyi Batak muda dan berkualitas.

Menurut ayah dari dua anak ini (Andre W Fernando dan Ananda Verani), dirinya bangga dengan banyak muncul penyanyi Trio Batak. “Banyak juga Trio Batak yang bagus. Tapi tidak sedikit juga Trio Batak yang tidak berkualitas, muncul hanya sekali rekaman. Rekaman kedua sudah hilang,”ujarnya.

Willy Silalahi saat tampil memukau di GKPS Jambi.

Potensi perkembangan penyanyi-penyanyi Batak dengan lagu-lagu Batak, menunjukkan bahwa masyarakat Batak di seluruh pelosok tanah air hingga dunia sangat mencintai dan merindukan lagu-lagu Batak dan penyanyi Batak.

Hingga kini suara emas Willy Silalahi tetap abadi bagi penggemarnya hingga kini. Kerinduan masyarakat Batak terhadap suara Willy Silalahi tetap memiliki pangsa pasar. Hadirnya album baru “Axi Trio” sangat dinanti-nanti masyarakat Batak di seluruh tanah air.

Masa Lalu

Percayakah anda, dalam dunia tarik suara, disamping kemampuan olah vocal dan kekompakan dalam bergroup, ada faktor lain yang cukup dipertimbangkan untuk dikenal dan dikenang orang terutama fans masing masing.

Trio Lasidos Plus dan Axsido Trio memiliki banyak faktor tersebut. Disamping mereka piawai dan saling bertanggung jawab atas vocal masing masing, ketiga personil ini sepertinya mempunyai “aura” hidup sebagai entertainer sejati.

Hal itu tampak jika mereka menaiki panggung untuk bernyanyi. Sebagai contoh, dalam panggung yang sama sebelumnya kita telah melihat dan mendengar penyanyi lain menyanyikan beberapa lagu dan kita anggap penyanyi tersebut telah memuaskan pendengaran dan penghilatan kita.

Tetapi jika tampil ini tampil kembali setelah penyanyi yang kita sebut bagus tadi, maka kita akan dapat dengan cepat mengatakan bahwa sebenarnya penyanyi tadi masih kurang baik dibanding dengan penampilan Trio Lasidos Plus dan Axido Trio. Magnet kedua trio itu pula yang mau dibawa Willy Silalahi dalam Axi Trio tahun ini.

Personil Trio Axido (Willy Silalahi, Tony Simarmata dan Joel Simorangkir) khusus Joel Simorangkir sering berkarir sebagai solois. Karena sesuatu hal, Trio ini tidak dapat bertahan lama dan hampir dipastikan para penggemarnya tidak akan melihat penampilan mereka lagi dalam nama Trio Axido.

Dalam mengarungi samudra dunia tarik suara yang luas, banyak menghadapi tantagan. Era tahun 1986 Trio Axido ini menemui jalan buntu alias memilih jalan masing-masing.

Banyak penggemar merasa kehilangan trio ini. Informasi penyebab bubarnya Trio Axido hilang bagaikan ditelan bumi. Tidak ada yang tau persis apa penyebab utama bubarnya trio itu. Termasuk Willy Silalahi tidak mau menyuarakan bubarnya Trio Axido tersebut.

Sementara itu, untuk melestarikan nama Trio Lasidos, Bunthora Situmorang bergabung dengan penyanyi yang sudah punya nama yakni Joel Simorangkir dan Willy Silalahi dengan nama “Trio Lasidos Plus”. Trio ini tidak bertahan lama.


Lantunan suara Willy Silalahi dengan Trio Lasidos Plus ini tidak terdengar lagi. Willy sempat vokum beberapa tahun.

Legendaris Batak

Penyanyi legendaris Pop Batak era itu pasang surut. Gabung dan bubar trio sudah menjadi hal biasa. Bubaernya Trio Lasidos Plus, kemudian membentuk “Trio New Lasidos” dengan personil Bunthora Situmorang, Jones Butarbutar dan Tagor Pangaribuan.

Sementara Jack Marpaung pencetus lahirnya Trio Lasdos lebih bersolo karier. Kancah Trio Lasidos di dunia musik Pop batak tidak bertahan lama. Bubarnya Trio Lasidos, meninggalkan kenagan tembang abadi bagi penggemarnya. Ada dua buah lagu yang amat terkenal ciptaan Jack Marpaung dan dinyayikan Jack yakni “Surat Narara” (Surat Tulisan Merah) dan “Kamar 13”.

Ayahanda dari Dewi Marpaung yang juga artis potensial masa kini memfokuskan diri bekerja di ladang Tuhan yang mengemban misi melayani dan pelayan firman Tuhan.

Sementara Hilman P.Situmorang mencoba meraih kesuksesan tampil berduet dengan Jack Marpaung. Namun lagi-lagi tidak bertahan lama, akhirnya Hilman P. Situmorang pulang kampung ke Sidikalang mencoba profesi baru bagi dirinya sebagai juragan kopi.

Penyayi legendaris dibalntikan musik Indonesia khususnya Pop Batak, Trio Lasidos tercatat sebagai satu-satunya trio Batak yang tersohor, beken. Berbagai predikat lainnya dengan hegemoninya yang begitu menghebohkan di era tahun tujuh puluhan hingga di era tahun delapan puluhan.

Trio legendaris (Trio Lasidos) dengan personil DR (HC) Bunthora Situmorang, Jack Marpaung dan Hilman P Situmorang, tahun 2005 lalu bersatu kembali atas prakarsa DR Sutan Raja DL Sitorus.

Pada tanggal 18 Agustus 2005 yang lalu Trio Lasidos yang hingga kini masih sulit dicari tandingannya berhasil mengguncang bumi Samosir dengan menampilkan lagu-lagu legendarisnya sekaligus launching lagu “Bangso Batak Na Tarpasupasu Do I” dalam acara akbar “Peletakan batu pertama perkampungan Si Raja Batak” di Pusuk Buhit yang diprakarsai DR Sutan Raja DL Sitorus.

Harapan Willy Silalahi, trio atau group penyanyi Batak terutama yang masih tergolong “Junior” agar tidak merasa bosan untuk berlatih dan berlatih. Sehingga diharapkan tercipta rasa kebersamaan dalam memelihara berbagai kelebihan dan memperbaiki kekurangan di antara satu dengan yang lain.

Guna mengabadikan group musik, sikap dan perilaku “keakuan” yang sempit harus dibuang. Karena hal ini dapat menjadi benih perpecahan.

Pengalaman berharga atas kesuksesan, kebersamaan dalam meraih prestasi yang diukir Trio Lasidos, Trio Lasidos Plus, Axido Trio dan Axi Trio dapat diikuti penyanyi muda/junior Batak dalam berkarier di jalur tarik suara. ruk (Tulisan Ini Sudah Naik di HU Batak Pos Edisi Rabu 15 Oktober 2008).

Minggu, 12 Oktober 2008

Mengabadikan Habonaron Do Bona Melalui Tembang Simalungun

Sosok

Intan Saragih

Nama Intan Saragih tidak asing lagi dikalangan masyarakat Simalungun yang mencintai “Habonaron Do Bona” (Kebenaran Adalah Permulaan) melalui tembang Simalungun. Motto Simalungun tersebut dipegang teguh oleh Intan Saragih, artis Simalungun yang berdomisili di Pematang Siantar. Kecintaannya terhadap Simalungun disalurkan lewat tembang Simalungun hingga melambung ke daerah perantauan.

Penampilan Intan Saragih, tidaklah seperti sebagian penyanyi Batak ibukota atau daerah yang gemar dengan keglamoran. Namun Intan Saragih adalah sosok gadis Simalungun yang sederhana yang menjungjung tinggi adat budaya Simalungun. Fanatismenya terhadap Simalungun dia abadikan dengan menggeluti profesi penyanyi lagu-lagu daerah Simalungun.

Seperti Lagu Cinta Bulung Motung, Sorod Ni Ranggiting serta album ketiga Bunga Papan. Seluruh tembang tersebut atau yang ada di album Pop Simalungun Intan Saragih merupakan ciptaan Sabar Tondang. Album ketiga adalah Produksi Gunung Artha Record.

Kecintaan Intan Saragih terhadap lagu-lagu Simalungun ternyata juga mengalir ke daerah luar Simalungun. Sabtu-Minggu (20-21 September 2008) Intan Saragih bersama Sabar Tondang tampil memukau di hadapan 1000 orang masyarakat Simalungun yang ada di Provinsi Jambi.

“Saya cukup bangga di Jambi. Ternyata kecintaan masyarakat Jambi asal tanah Simalungun cukup tinggi terhadap budaya dan musik daerahnya. Kerinduan akan lagu-lagu daerah Simalungun di perantauan membuat kami termotivasi untuk lebih berbuat terhadap lagu-lagu Simalungun. Saya selaku penyanyi dan putri Simalungun bangga dengan Simalungun,”ujar Intan Saragih saat berbincang-bincang dengan Batak Pos di Jambi, Senin (22/9) sebelum bertolak dari jambi menuju Siantar.

Intan Saragih dan Sabar Tondang saat tampil di Jambi, Sabtu 20 September 2008 di GKPS Jambi. Foto Rosenman Manihuruk alias Asenk Lee Saragih.

Selama delapan tahun bergelut di dunia tarik suara Tembang Pop Simalungun dibawah bendera Nita Group Record, Intan Saragih sudah menelorkan tiga album Pop Simalungun. Diantara tembang dari tiga album tersebut cukup akrab di masyarakat Simalungun.

Sejak Kecil

Kecintaan Intan Saragih akan lagu-lagu Simalungun sudah ditunjukkannya sejak menginjak bangku sekolah dasar (SD N 122381 P Siantar). Dirinya juga hobi menyanyi dan sering disalurkan saat ada acara hajatan pesta perkawinan atau kegiatan lainnya.

“Saya hobi menyanyi sejak SD. Saya juga mencintai lagu-lagu Simalungun sejak kecil. Dan sekarang saya menancapkan profesi sebagai penyanyi Simalungun yang profesional. Tiga album Pop Simalungun saya selama delapan tahun adalah bukti kecintaan saya terhadap Simalungun,”ujar putri pasangan J Saragih dengan P boru Situmorang ini.

Awal karier Intan Saragih di dunia tarik suara profesional, dimulai dari paggung pesta perkawinan. Banyaknya permintaan terhadap dirinya untuk bernyanyi, membuat Intan Saragih serius untuk menekuni talenta yang dimilikinya.

“Saya memulai karier dari panggung ke panggung hingga bisa rekaman sejak tahun 2001 dan mulai rekaman tahun 2003. Saya diberi Tuhan talenta bernyanyi yang bisa menghibur orang banyak, khususnya komunitas saya sendiri. Mudah-mudahan kecintaan dan perhatian orang Simalungun terhadap lagu-lagu Simalungun tetap abadi,”ujar anak keempat dari lima bersaudara ini.

Tak Punya Royalti

Dibalik eksistensi Intan Saragih menggeluti dunia tarik suara Pop Simalungun hingga bisa memasuki dapur rekaman, ternyata meninggalkan kesan yang kurang menguntungkan. Tiga album Pop Simalungun yang telah dihasilkannya, ternyata tidak mendapatkan Royalti dari penjualan kaset dan VCD.

“Penyanyi Simalungun jarang mendapatkan royalti dari hasil karya mereka. Kontrak kerja yang kerap disepakati hanya bagi hasil dari penjualan kaset saat album keluar. Penyanyi hanya mendapatkan sedikit dari penjualan kaset. Bahkan pembayaran sering dilakukan setelah penjualan kaset,”kata putri Simalungun lulusan SMP N 7 P Siantar ini.

Menurut Intan Saragih, entertainment Simalungun hingga Producer Simalungun hingga kini belum mampu mensejahtrakan Artisnya. Bahkan managemen Artis Simalungun tergolong managemen perorangan. Hal itu ditandai dengan belum adanya Artis Simalungun yang melakukan kontrak hingga tahunan dalam segala kegiatan entertaiment.

Butuh Perhatian

Sementara itu, ternyata penyanyi Simalungun tidak menjadi tuan di negeri sendiri. Saat malam hiburan Pesta Danau Toba baru-baru ini yang berlangsung di Parapat, Kabupaten Simalungun, ternyata artis Simalungun tidak ada yang tampil. Bahkan Pemerintah Kabupaten Simalungun terkesan melupakan Artis Simalungun pada malam hiburan itu.

“Perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun terhadap lagu-lagu daerah serta penyenyi Simalungun minim sekali. Malam hiburan Pesta Danau Toba adalah bukti ketidak berpihakan Pemerintah Simalungun terhadap Artis Simalungun,”kata Intan Saragih didampingi Sabar Tondang.

Disebutkan, lemahnya nilai jual artis Simalungun, karena tidak memiliki manajemen yang profesional dibidang entertainment. Sehingga promosi jual artis-artis Simalungun di kampung sendiri kurang diminati para pengusaha hiburan.

Menurut Intan Saragih, lulusan SMK N 1 P Siantar ini, selain pemerintah setempat, tokoh-tokoh masyarakat Simalungun yang sukses di perantauan juga masih minim memberikan perhatian terhadap Artis Simalungun, termasuk lagu-lagu Simalungun.

“Banyak orang Simalungun yang sukses di perantauan atu di Simalungun sendiri. Namun perhatian terhadap lagu Simalungun dan pelantunnya sangat minim. Kami berharap kedepan Tokoh Simalungun mau berbuat untuk mengabadikan lagu-lagu Simalungun demikian juga dengan artisnya,”katanya.

Intan juga berharap dukungan masyarakat Simalungun dimanapun berada untuk tetap mencintai dan mau membeli kaset lagu-lagu Simalungun. “Saya berharap Motto Simalungun “Habonaron Do Bona” tetap mendarah daging bagi orang Simalungun dimanapun berdomisili. Bagi orang Simalungun perantauan tetap peduli terhadap kampung halamannya,”ujarnya.

Tampil Memukau

Sementara itu, Malam Kesenian Simalungun, Marsombuh Sihol (Melepas Rindu), Sabtu (20/9) malam dan Puncak Perayaan Pesta Jubileum (Olob-olob) 105 Tahun Injil di Simalungun tingkat GKPS Resort Jambi, di GKPS Jambi, Minggu (21/9), Intan Saragih dan Sabar Tondang tampil memukau.

Intan Saragih dengan kyboris Sabar Tondang mampu mengobati kerinduan 1000 masyarakat Simalungun di jambi yang hadir pada acara tersebut. Puluhan tembang Simalungun dari album Intan Saragih serta tembang-tembang lawas Simalungun berdetak di acara Marsombuh Sihol dan Pesta Jubileum itu.

Antusiasme warga GKPS se Resort Jambi yang meliputi GKPS Kota Jambi, Suka Makmur (Tebo), GKPS Bungo, Sumber sari dan Simpang TKA (Kabupaten Bungo) dan GKPS Bangko (Merangin) serta satu pos pelayanan Aur Duri Kota Jambi pada malam hiburan itu sungguh luar biasa.

Intan Saragih mampu menyanyikan sedikitnya 30 tembang Simalungun yang akrab ditelinga masyarakat Simalungun yang berdomisili di Kota Jambi dan sekitarnya. Tidak heran, kalau lelang sejumlah tembang Simalungun yang dilantunkan Intan Saragih mampu mengumpulkan dana untuk GKPS Resort Jambi puluhan juta Rupiah.

Selain masyarakat Simalungun, simpatisan Simalungun yang ada di Kota Jambi dan sekitarnya juga menikmati kerinduan tembang-tembang Simalungun yang dilantunkan artis Simalungun (Pematang Siantar) Intan Saragih dengan Sabar Tondang, Willy Silalahi (Personil Lasidos Plus), Trio Gama Jambi.

Artis pendukung tersebut mampu mengobati kerinduan ribuan masyarakat Simalungun yang ada di Provinsi Jambi akan lagu-lagu Simalungun. Parade lagu-lagu Simalungun itu juga dihiasi dengan tampilnya tarian khas Simalungun yakni Tortor Sombah yang dibawakan Pemudi GKPS Jambi (Kristi, Rose, Junitha, dan Henny). ruk alias Asenk Lee Saragih. (Berita Sosok ini sudah naik di HU Batak Pos Edisi Jumat, 10 Oktober 2008)

Semangat Generasi Muda Melestarikan Seni dan Budayanya

Intan Saragih

Intan Saragih, bertekad melestarikan seni dan budaya Simalungun melalui musik dan lagu. Kejayaan musik dan lagu Simalungun ikut meredup ketika pencipta lagu Taralamsyah Saragih meninggal dunia di Kota Jambi puluhan tahun silam. Sangat jarang muncul lagu-lagu khas Simalungun yang mampu menembus belantika musik dan lagu nasional.

Gaung musik dan lagu Simalungun semakin tenggelam ketika penyanyi dan musikus jazz Bill Saragih berpulang, menghadap Sang Pencipta beberapa tahun silam. Tak ada lagi lantunan lagu-lagu Simalungun bergaya jazz berkumandang di pentas-pentas musik. Semakin parah keadaannya ketika dua tahun lalu, Tursini Saragih, penyanyi berkarakter khas yang konsisten menyanyikan lagu-lagu daerah, berpulang.

Kiblat musik pun mulai beralih ke Tapanuli dan Karo. Dalam pesta-pesta gereja dan adat Simalungun, bukan lagi lagu-lagu Simalungun yang berkumandang, melainkan lagu Tapanuli dan Karo. Fenomena itu tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat Simalungun perantauan, tetapi juga di kampung halaman.

Intan Saragih dan Sabar Tondang saat tampil di Jambi, Sabtu 20 Sep 2008. Foto Asenk Lee Saragih.

Perubahan kiblat musik tersebut kini pelan-pelan berbalik, seiring munculnya artis berbakat Intan Saragih (25) dan pencipta lagu Sabar Tondang (30). Di tangan Sabar Tondang dan melalui suara emas Intan Saragih, lagu dan musik yang "mati suri" kini mulai bangkit.

Kehadiran mereka mampu menghidupkan kembali kegairahan melantunkan lagu dan musik Simalungun. Intan dan Sabar membuktikannya melalui dunia rekaman dan panggung pertunjukan. Penampilan terakhir mereka adalah dalam malam pergelaran kesenian Simalungun, "Marsombuh Sihol (Melepas Rindu)" di Kota Jambi, belum lama ini.

Pada malam perayaan Pesta Jubileum 105 Tahun Injil di Simalungun tersebut, Intan Saragih berhasil memesona sekitar 600 hadirin, melalui lagu-lagu bergaya inggou (cengkok) Simalungun karya Sabar Tondang. Begitu lagu Sorot Ni Ranggiting (Sengatan Lebah) dan Cinta Bulung Motung yang sarat cengkok disenandungkan, penonton langsung terhanyut ke Tanah Simalungun era Taralamsyah Saragih. Keduanya menyajikan 20 lagu untuk mengiringi tarian hampir tiga jam. Penampilan Intan Saragih pada malam kesenian tersebut sekaligus membuktikan lagu dan musik Simalungun belum mati seperti anggapan selama ini.

"Kami sanggup mengisi malam kesenian ini hanya dengan lagu-lagu Simalungun seperti harapan panitia. Kami tak perlu menyusupkan lagu-lagu daerah lain agar suasana Simalungun benar-benar terasa. Stok lagu kami banyak," paparnya.


Obsesi

Konsistensi pada gaya khas inggou dan bekal suara emas membuat Intan Saragih kini menjadi primadona baru di dunia musik pop Simalungun. Dia mulai menyejajarkan diri dengan deretan artis yang lebih senior, seperti John Eliaman Saragih, Lamser Girsang, Sarudin Saragih, dan juga Willy Silalahi, mantan personel Trio Friendship, Trio Lasidos Plus, dan Axido Trio.

Kualitas vokal Intan teruji ketika mampu menyemarakkan pentas hiburan Semalam di Simalungun dan pentas hiburan Jubileum 105 Tahun Injil di Simalungun di GKPS Jambi, yang juga turut dimeriahkan Willy Silalahi, Gama Trio, dan Debora Simanjuntak. Dalam dua hari pentas musik tersebut, dia melantunkan 38 lagu tanpa ada penurunan kualitas suara.

Suara Intan bukan hanya bisa dinikmati di panggung-panggung pertunjukan, melainkan juga melalui kaset rekaman. Suaranya kini mulai menggema di kendaraan-kendaraan pribadi, di kendaraan umum, hingga rumah makan-rumah makan, baik di Simalungun sendiri maupun di perantauan.

"Saya sudah mengeluarkan lima album rekaman dalam bentuk kaset dan CD (compact disc). Sebagian besar lagu yang saya bawakan karya cipta Sabar Tondang. Tema-tema lagunya bervariasi, mulai dari tema lagu cinta muda-mudi, cinta kampung halaman, dan cinta seni budaya," kata anak keempat dari lima bersaudara itu.

Intan terobsesi menjadi "pahlawan baru" seni dan budaya Simalungun, setelah muncul gejala baru "malu menjadi orang Simalungun". Banyak warga yang tidak tahu lagi bahasa, budaya, dan lagu Simalungun karena merasa malu. Bahkan, tidak jarang ada yang menghilangkan marganya, dan lebih senang mengadopsi seni, budaya, lagu, dan bahasa etnis Batak lain, seperti Toba dan Karo.


Prihatin

"Saya prihatin. Orang Simalungun hanya tinggal badan dan nama. Bahasanya saja tidak tahu. Makanya kita gugah ahap (perasaan cinta) Simalungun melalui lagu. Ini yang bisa saya sumbangkan untuk pelestarian dan perkembangan kesenian dan kebudayaan, sebagai bagian budaya nasional," katanya.

Ketua Panitia Jubileum 105 Tahun Injil di Simalungun GKPS Resort Jambi, Meslan Saragih Garingging mengatakan sengaja mengundang artis lokal asal Simalungun memeriahkan malam kesenian itu untuk menghadirkan suasana Simalungun.

"Intan Saragih itu memang artis serbabisa yang berpotensi meneruskan ciri khas lagu Simalungun di pentas musik Batak. Dia pandai inggou dan mengerti selera musik warga Simalungun di kampung halaman dan perantauan," katanya. Dikutip dari Suarapembaruan, Edisi Jumat 10 Oktober 2008.[SP/Radesman Saragih]

Sabtu, 04 Oktober 2008

Gereja Kesukuan, Mekar di Tengah Kekangan Sosial

Ketua Majelis Jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Jambi, St Drs Guntar Marolob Saragih MSc pada rapat evaluasi pembangunan dan pemekaran gereja di GKPS Jambi, baru-baru ini mengemukakan terima kasihnya kepada Tuhan atas penggalangan dana yang dilaksanakan jemaat yang hasilnya luar biasa.

Dosen Universitas Batanghari (Unbari) Jambi itu menilai, hasil penggalangan dana pada Pesta Perak atau Perayaan 25 Tahun Jemaat GKPS Jambi, yang mencapai Rp 100 juta merupakan anugerah. Apalagi perayaan itu dilaksanakan hanya tingkat jemaat yang berjumlah hanya 168 kepala keluarga (607 jiwa). Kemudian pesta tersebut tidak mengundang gereja-gereja tetangga dan tidak mengumpulkan dan dari para pengusaha. Hanya beberapa simpatisan GKPS yang diundang.

Sejak gereja itu diresmikan 18 Maret 1983, pesta penggalangan dana belum pernah menghasilkan uang hingga Rp 100 juta. Pada perayaan Jubileum 100 Tahun Injil di Simalungun di GKPS Jambi tahun 2003 pun hasil pesta tak mencapai Rp 50 juta. Padahal saat itu pesta dilaksanakan dua hari (Sabtu - Minggu), mengundang gereja tetangga dan mengumpulkan dana dari para pengusaha.

Praeses GKPS Distrik VI Pdt Hot Imanson Sinaga STh saat kotbah pada Pesta Olob2 GKPS Resort Jambi, Minggu 21 September 2008. Foto Asenk Lee Saragih.

Menurut Guntar Marolob Saragih, besarnya hasil penggalangan dana pada Pesta Perak GKPS Jambi tersebut menunjukkan tingginya semangat pekabaran Injil dan pesatnya kemajuan ekonomi warga jemaat. Dulu sangat sulit mengerahkan warga jemaat untuk kegiatan pelayanan di tengah gereja. Kesulitan yang sama juga terjadi pada penggalangan dana. Hal itu terjadi karena kondisi ekonomi sebagian besar warga jemaat masih pas-pasan.

Hal senada juga diakui Ephorus (Pimpinan Pusat) GKPS, Pdt Belman Purba Dasuha STh ketika menghadiri Pesta Perak GKPS Jambi, Minggu (23/3). Menurut Ephorus GKPS, perkembangan GKPS Jambi cukup pesat saat ini. Hal ini tidak nampak hanya dari bagusnya bangunan fisik gereja dan besarnya hasil sumbangan warga pada pesta tersebut.

Kemajuan tersebut nampak dari kemajuan ekonomi warga jemaat dan semangat kebersamaan dalam pelayanan gereja. Kesejahteraan warga jemaat yang meningkat dan rasa kebersamaan tersebut menjadikan GKPS Jambi bisa berkembang seperti sekarang.

"Kebersamaan dan keterbukaan hati untuk saling menopang dalam pelayanan membuat GKPS Jambi cepat berkembang dalam pembangunan fisik dan pelayanan. Saya terkesan atas apa yang saya rasakan di GKPS Jambi ini. Kesan ini akan saya kabarkan di gereja GKPS lain yang ada di persada nusantara ini,"katanya.


Gereja Mandiri

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Kota Jambi dari Partai Damai Sejahtera (PDS), Efron Purba SE yang hadir pada Pesta Perak GKPS Jambi itu mengungkapkan sangat terkesan terhadap perkembangan GKPS Jambi. Kendati GKPS hanya salah satu gereja kesukuan di perantauan yang jumlah warganya tidak seberapa, GKPS mampu membangun gerejanya secara mandiri. Baik pembangunan fisik, pembangunan kerohanian dan pembangunan sumber daya manusia.

Efron juga melihat, kunci kemajuan GKPS Jambi, seperti kemajuan yang dicapai gereja-gereja lain di Jambi terletak pada kebersamaan. Kebersamaan itu nampak dari kerja sama warga jemaat membangun gereja, melaksanakan roda pelayanan rohani, sosial, ekonomi dan budaya. "Warga jemaat GKPS Jambi mau bahu membahu memajukan pelayanan gereja. Dengan demikian apapun kendala yang dihadapi bisa diatasi," katanya.

Efron mengatakan, rasa kebersamaan tersebut perlu dikembangkan di tengah-tengah gereja dari berbagai denominasi (aliran) dan daerah di Jambi. Gereja-gereja yang ada di daerah itu tidak bisa berjuang sendiri-sendiri menghadapi beratnya kekangan sosial yang menghambat perkembangan gereja.

Dikatakan, umat Kristen di Jambi perlu menyadari bahwa tantangan gereja di daerah itu sama, yakni sulitnya membangun rumah ibadah dan beratnya mencari lapangan kerja bagi warga jemaat. Untuk mengatasi itu umat Kristen harus menyatukan langkah agar mampu secara bersama-sama memperjuangkan kemudahan membangun rumah ibadah dan mengatasi kesulitanekonomi warga jemaat.

"Untuk wilayah Kota Jambi, kita memang sudah bisa menikmati kemudahan beribadah karena pemerintah memberikan lokasi khusus pembangunan gereja. Tapi lokasi tersebut masih kurang dibandingkan kebutuhan pembangunan gereja. Kemudian di daerah kabupaten masih sangat sulit membangun gereja. Karena gereja-gereja di Jambi tidak bisa hanya kepentingan sendiri," katanya.


Penuh Liku

Sementara itu, Guntar Marolob Saragih mengatakan, perjalanan GKPS Jambi selama 25 tahun ini penuh liku-liku dan kesulitan. Sejak diresmikan menjadi jemaat baru tahun 1983, gereja itu sulit membangun rumah ibadah. Beberapa kali bangunan gereja tidak bisa didirikan di tanah sendiri akibat larangan lingkungan masyarakat. GKPS Jambi baru bisa memiliki gedung gereja sendiri di komplek gereja Kotabaru Jambi tahun 1986.

GKPS Jambi juga berjuang berat mengembangkan pekabaran Injil di wilayah Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Sebagai induk wilayah pelayanan GKPS tingkat resort (antarprovinsi), GKPS Jambi menjadi penanggung jawab pelayanan jemaat GKPS Palembang, Sumatera Selatan. Akhirnya lima tahun lalu GKPS Palembang dimekarkan menjadi satu resort bergabung dengan GKPS Bengkulu dan GKPS Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). [SP/Radesman Saragih]Dikutip Dari SP Edisi Sabtu 27 September 2008.